JAKARTA , (NBC ) — Ratusan pedagang korban kebakaran Pasar Taman Puring, Jakarta Selatan, mengaku kecewa dan merasa dibohongi oleh Pemerintah Provinsi DK Jakarta setelah muncul informasi bahwa lahan bekas kebakaran tersebut akan dialihfungsikan menjadi taman difabel.

Kekecewaan para pedagang muncul karena sebelumnya mereka mengaku telah menerima pernyataan dan janji dari pemerintah daerah bahwa kawasan Pasar Taman Puring akan dibangun kembali sebagai pasar rakyat untuk tempat usaha masyarakat, dengan sistem koperasi yang dikelola melalui Badan Pengelola Aset Daerah (BPAD).

Bahkan, usai peristiwa kebakaran besar yang terjadi pada Juli 2025 lalu, Gubernur DKI Jakarta sempat menyampaikan keterangan bahwa Pasar Taman Puring akan dibangun kembali agar para pedagang dapat kembali beraktivitas dan memiliki tempat usaha yang layak. Namun, dalam perkembangannya, para pedagang menilai realita di lapangan justru berbeda dari janji yang sebelumnya disampaikan kepada masyarakat.

Kekecewaan para pedagang semakin memuncak setelah adanya pertemuan dengan pihak pemerintah daerah pada Senin, 18 Mei 2026. Dalam pertemuan tersebut, para pedagang diminta membongkar lapak dan tenda secara sukarela dengan alasan agar proses penataan kawasan dan pembangunan tidak terhambat.

Karena masih mempercayai komitmen pemerintah, para pedagang akhirnya sepakat melakukan pembongkaran lapak secara mandiri tanpa perlawanan. Namun, sehari setelah pembongkaran dilakukan, para pedagang justru dikejutkan dengan munculnya pemberitaan yang menyebut lahan eks Pasar Taman Puring akan dijadikan taman difabel.

Informasi tersebut sontak memicu kemarahan dan keresahan para pedagang karena mereka mengaku tidak pernah mendapatkan penjelasan resmi terkait adanya perubahan rencana pembangunan tersebut.

“Kami merasa dibohongi. Awalnya masyarakat dijanjikan lokasi ini akan dibangun kembali untuk pedagang dengan dibuka sistem koperasi melalui BPAD. Karena itulah kami mau membongkar lapak secara sukarela. Tapi sekarang malah muncul berita bahwa lokasi ini akan dijadikan taman difabel,” ujar salah satu perwakilan pedagang di lokasi, Selasa 29 Mei 2026.

Menurut para pedagang, sejak kebakaran besar melanda Pasar Taman Puring pada Juli 2025, lebih dari 500 pedagang kehilangan mata pencaharian dan mengalami kerugian ekonomi yang sangat besar. Selama hampir sembilan bulan pascakebakaran, mereka mengaku belum memperoleh solusi nyata, kepastian relokasi, maupun kejelasan terkait nasib tempat usaha mereka dari pemerintah.

Para pedagang juga menilai kondisi tersebut semakin memperburuk keadaan ekonomi keluarga mereka, karena sebagian besar menggantungkan hidup dari aktivitas berdagang di kawasan Pasar Taman Puring.