BOGOR, (NBC) - Setelah di spil terkait salah satu proyek mangkrak di Gunung Putri Achmad Fathoni merajuk.
Setelah ada pemberitaan dan dikonfirmasi terkait proyek sumur bor yang dikerjakan dinas PUPR, saat itu Ahmad Fathoni anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bogor di minta klarifikasi atau stadmentnya oleh awak media update Cerita dan merespon dengan baik. Kamis 21 Agustus 2025.
Namun sangat disayang, setelah ada penayangan berita terkait mangkraknya proyek sumur bor tersebut, “Program Sumur Bor di Gunung Putri Mangkrak Setahun, DPRD PKS dan PUPR Diminta Bertanggung Jawab”, alih - alih memberikan respon positif yang baik Ahmad Fathoni malah berkomentar bak seorang preman dengan nada ketus via WhatsApp " kalau memberitakan santai " dan memblokir nomor WhatsApp awak media update Cerita.
Banyak pihak menyesalkan tindakan Ahmad Fathoni ini, tidak sepantasnya seorang anggota Dewan terhormat melakukan hal sebodoh itu.
Salah satunya di ungkapkan oleh Johner Simanjuntak.
Johner Simanjuntak, mengecam keras dan menyebut pemblokiran wartawan oleh pejabat publik sebagai sikap tidak terpuji dan bentuk mental pengecut.
“Itu perilaku pejabat yang gagal, karena tidak mampu memberikan pemahaman kepada publik. Wartawan berhak melakukan konfirmasi, bahkan dengan pertanyaan tajam sekalipun. Kalau pejabat telinganya tipis, jangan jadi pejabat publik,” tegas Johner, Sabtu 23 Agustus 2025.
Pers adalah penyambung lidah rakyat. Kalau pejabat publik memutus komunikasi dengan wartawan, berarti ia menutup telinga dari aspirasi masyarakat.
"Itu mental pengecut, lebih baik berhenti saja jadi pejabat daripada merugikan rakyat, kasus ini memperlihatkan lemahnya komitmen keterbukaan informasi sebagian pejabat daerah, padahal setiap kebijakan yang menggunakan anggaran negara wajib dipertanggungjawabkan kepada publik," pungkasnya.