BOGOR, (NBC) – Ironis memang, ketika rakyat masih berjuang menghadapi kesusahan finansial, sebagian oknum anggota DPRD justru sibuk menuntut fasilitas dan tunjangan mewah.
Apalagi sampai memantik aksi massa yang pecah, memprotes perilaku wakil rakyat yang lebih mirip penikmat kekuasaan ketimbang penyambung lidah rakyat.
Ya, kontras itu kian terasa bila dibandingkan dengan sosok almarhum KH Idham Chalid. Sosok Ketua DPR RI periode 1971–1977 sekaligus tokoh besar Nahdlatul Ulama ini menjalani hidup jauh dari hiruk-pikuk fasilitas.
Ia dan keluarganya memilih naik metromini seperti rakyat biasa dan anak-anaknya pun enggan memanfaatkan nama besar sang ayah untuk masuk politik, dan lebih memilih berwirausaha.
Padahal, jabatan Idham bukan sembarangan loh, yakni Wakil Perdana Menteri, Menteri Kesejahteraan Rakyat, Ketua DPR, hingga Ketua MPR.
Di Nahdlatul Ulama (NU) , ia tercatat sebagai Ketua Tanfidziyah terlama, memimpin selama 28 tahun (1956–1984).
Namun setelah pensiun, Idham Chalid menolak semua tawaran jabatan komisaris dan bisnis sampingan.
Ia kembali ke fitrah yaitu menjadi guru agama, mengajar santri, memimpin pesantren, serta membina rumah yatim di Cisarua.
"Bangsa kita butuh sosok seperti Idham Chalid, pejabat setingkat Ketua DPR RI dan wakil perdana menteri, menolak fasilitas mewah dan bahkan diakhir masa jabatannya lebih memilih jadi guru."
